Sunday, 07 June 2026

Isi konten:

Ringkasan Utama

Fenomena lipstick effect kembali mengemuka di Indonesia seiring pelemahan daya beli masyarakat akibat tekanan nilai tukar rupiah dan ketidakpastian ekonomi.

Konsumen kini menahan pengeluaran untuk barang pemenuhan kebutuhan primer jangka panjang dan mengalihkan anggarannya pada komoditas kecil yang sifatnya emosional.

Pergeseran perilaku belanja ini beriringan dengan lonjakan transaksi e-commerce, yang kini bertransformasi fungsi dari sekadar tempat belanja menjadi ruang hiburan digital.

Kondisi Saat Ini

Data Bank Indonesia mencatat nilai transaksi e-commerce sepanjang triwulan ketiga 2025 mencapai Rp 134,67 triliun, atau tumbuh sebesar 3,74% secara tahunan.

Laporan e-Conomy SEA 2025 memproyeksikan ekonomi digital nasional mencapai Gross Merchandise Value 100 miliar dolar AS, tumbuh 14% dibanding tahun lalu.

Sektor e-commerce tetap menjadi kontributor terbesar dengan proyeksi nilai kapitalisasi pasar yang meningkat hingga mencapai 71 miliar dolar AS pada 2025.

Perubahan Perilaku Konsumen

Hasil survei APJII 2025 menunjukkan produk pakaian dan aksesoris menjadi komoditas paling diminati di e-commerce dengan porsi transaksi mencapai 43,74%.

Data BPS turut mengonfirmasi kenaikan proporsi belanja per kapita untuk sektor sandang dari 2,36% pada 2024 menjadi 2,5% pada periode 2025.

Sebaliknya, porsi pengeluaran untuk kebutuhan primer seperti perumahan justru turun menjadi 25,41% akibat pengetatan anggaran rumah tangga oleh konsumen.

Faktor Penggerak Pasar

Lonjakan transaksi ini dipicu oleh pertumbuhan masif video e-commerce yang mencatatkan volume hingga 2,6 miliar transaksi secara tahun berjalan.

Algoritma platform dan fitur live shopping berhasil menciptakan efek pembelian impulsif dengan memanfaatkan kecemasan psikologis konsumen atau fenomena FOMO.

Integrasi konten dan perdagangan digital ini didukung pula dengan ekspansi jumlah toko daring yang kini tumbuh 75% hingga mencapai 800 ribu penjual.

Insight Prospektiv

Pertumbuhan sektor e-commerce di tengah penurunan daya beli makro mengonfirmasi bahwa konsumsi domestik tidak berhenti, melainkan mengalami penurunan kelas.

Riset eksternal membuktikan bahwa motivasi belanja konsumen saat ini telah bergeser dari pemenuhan fungsi utilitas barang menuju pemenuhan kebutuhan psikologis.

Aktivitas berburu diskon dan self-reward di marketplace menjadi kompensasi hiburan yang paling terjangkau bagi kelas menengah di tengah risiko finansial.

Namun, pola konsumsi impulsif ini berisiko menggerus tabungan masyarakat dalam jangka panjang jika tidak diimbangi dengan penguatan literasi keuangan digital.

Sumber kredibel:

⭐ Prospektiv Supporter

Terima kasih untuk Jason Pangalila, Surwanto Amboro, Andien Sulaiman sudah beliin kopi untuk tim editor Prospektiv hari ini.

---

Suka dengan konten premium ini? Dukung tim editor Prospektiv untuk beli kopi agar kami bisa terus menulis rangkaian informasi ekonomi dan bisnis di Indonesia secara independen.

Biar kita bisa terus melek finansial dan gak salah ambil keputusan dan nama kamu akan kami tulis di footer artikel sebagai tanda terima kasih kami :)

Dukung Kami

🔥 Populer Lainnya

Link disalin!