Ringkasan Utama
PT Pertamina (Persero) menetapkan target besar untuk kontribusi teknologi kecerdasan buatan dan pembaruan sistem digital. Perusahaan membidik perbaikan pendapatan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi sebesar Rp 5,3 triliun pada 2027.
Fokus utama perusahaan kini bergeser dari sekadar adopsi teknologi menuju penciptaan dampak nyata pada kinerja keuangan. Strategi ini telah dimasukkan ke dalam rencana jangka panjang perusahaan agar hasilnya lebih terukur.
Penerapan teknologi baru ini dilakukan di seluruh lini bisnis. Mulai dari pencarian sumber minyak di sektor hulu, manajemen kilang di sektor tengah, hingga jaringan distribusi produk di sektor hilir.
Strategi Perusahaan
Untuk mencapai target tersebut, manajemen membentuk unit khusus bernama Pertamina Digital Hub. Unit ini bertugas mengoordinasikan seluruh ide pengembangan teknologi dan bertanggung jawab langsung kepada Direktur Utama.
Pertamina juga menjalankan program pengembangan bertahap bernama Digital Factory. Melalui lini ini, setiap masalah operasional dianalisis terlebih dahulu untuk dibuatkan contoh solusi digital skala kecil.
Jika solusi awal tersebut terbukti mampu menekan biaya atau menaikkan produksi, penerapannya akan diperluas ke unit bisnis lain. Manajemen juga mulai memasukkan target kontribusi keuangan ini ke dalam penilaian kinerja utama setiap unit kerja.
Potensi Dampak dan Kinerja
Hasil dari pembaruan sistem ini menunjukkan tren kenaikan dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2024, kontribusi keuangan dari program digital tercatat sebesar Rp 624 miliar, lalu naik menjadi Rp 1,42 triliun pada 2025.
Memasuki tahun ini, target kontribusi ditingkatkan menjadi Rp 2,67 triliun. Di sektor hulu, penggunaan teknologi analisis data baru diklaim mampu menaikkan peluang keberhasilan pencarian sumber minyak hingga 10 persen pada wilayah kerja tertentu.
Ke depan, pemanfaatan teknologi ini akan diperluas ke bagian krusial lainnya. Termasuk untuk proses pengeboran, optimalisasi jumlah produksi, hingga pengelolaan cadangan minyak bumi.
Insight Prospektiv
Langkah Pertamina memperketat target kontribusi keuangan dari sektor digital menandai babak baru pengelolaan badan usaha milik negara yang tidak lagi menjadikan teknologi sekadar pelengkap operasional.
Komitmen yang diwujudkan lewat pembentukan divisi khusus di bawah pengawasan langsung direksi merupakan kunci penting guna memangkas jalur birokrasi yang sering menghambat pembaruan sistem di perusahaan besar.
Peningkatan keberhasilan pencarian sumber minyak sebesar 10 persen di sektor hulu memberikan dampak besar bagi efisiensi biaya eksplorasi yang terkenal berisiko tinggi dan bermodal besar.
Keberhasilan mengejar target Rp 5,3 triliun pada tahun depan akan sangat bergantung pada konsistensi penerapan penilaian kinerja di tingkat daerah operasi serta kemampuan pekerja dalam beradaptasi dengan sistem baru.